Iggeret Teyman: Nasab Sang Nabi

Oleh: Menachem Ali
Rambam (Rabbi Moshe ben Maimon) lahir di Kordoba pada tahun 1135 CE. Dia (1135 - 1204 CE.) adalah seorang Talmudist, Halachist, dokter, filsuf, dan pemimpin para komentator dari kitab TaNaKH dan Talmud yang dikenal di dunia Yahudi dengan sebutan akronim RAMBAM.

RAMBAM dalam karyanya yang berjudul "Iggeret Teyman" (Surat kepada komunitas Yahudi Yaman) yang ditulis dalam bahasa Judeo-Arabic, beliau mengutip teks dari kitab Mazmur 120:5, dan kemudian beliau menjelaskan teks tersebut berdasarkan metode midrash Agada.

"(Daud) telah berkata: "Celakalah aku, karena aku bermukim di Mesekh, aku tinggal bersama di tenda kaum Kedar (Mazmur 120:5). Adapun ungkapan itu kekhususannya adalah Kedar termasuk keturunan Ismail, karena berdasarkan ta'wil bahwasanya lelaki yang mengalami "trans" yang disebut משגע (meshuga') itu ternyata berasal dari keturunan Kedar (bani Kedar) sebagamana masyhur dalam nasab silsilahnya."

Pernyataan RAMBAM dalam suratnya tersebut memang amat penting dipahami, karena beliau menggunakan istilah khusus, yakni kosakata תאול (ta'wil) yang mengisyaratkan adanya pentingnya metode takwil dalam memahami nas kitab suci. Pernyataan Rambam dalam suratnya juga menyebut: "kama huwa masyhur fi nasabihi" ( כמא הו משהור פי נסבה). Hal ini membuktikan bahwa justru dari gramatika bahasa Judeo-Arab (Al-'Arabiyyah al-Yahudiyyah) yang digunakan tersebut.

Hal ini menunjukkan adanya pengakuan aklamasi yang tentu saja berbasis pada catatan kitab-kitab Ansab yang dikenal di kalangan tradisi Rabbinik. Tarikh Yahudi dan Tarikh Islam, juga tidak pernah ada informasi tentang adanya penolakan bangsa Arab bahwa Nabi Islam tersebut bukan berasal dari keturunan Ishmael melalui Qedar. Hal ini bisa dibaca dari karya Tarikh at-Thabari. Imam at-Thabari menyebutkan adanya daftar silsilah dari 2 jalur, yakni dari jalur Nabit (Nebayot) bin Ismail, dan dari jalur Khaidar (Qedar) bin Ismail. Hal ini sejajar dengan klaim Kristiani yang menyebutkan daftar silsilah Yesus yang juga berasal dari 2 jalur; yakni dari jalur Salomo ben David (Injil Matius 1:6) dan dari jalur Nathan ben David (Injil Lukas 3:31).

Jadi, RAMBAM menyebutkan bahwa ada seorang lelaki dari antara keturunan Ismael, yang nasabnya bersambung kepada Kedar, dan lelaki itu jelas mengklaim dirinya sebagai nabi. Rambam mengutip ayat Tehilim (Mazmur 120: 5), ia kemudian menjelaskannya. "Celakalah aku, bahwa aku hidup bermukim di Mesech, bahwa aku tinggal di antara klan-klan kaum Kedar (Mazmur 120: 5). Perhatikan bagaimana ayat itu membedakan kaum Kedar dari antara keturunan Ismail lainnya. Hal ini membuktikan karena semua orang tahu bahwa lelaki itu adalah seseorang dari antara orang-orang keturunan Kedar, dan nasabnya memang termasyhur dari antara bani Kedar bin Ismail" Itulah sebabnya di kalangan komunitas Yahudi dan Nasrani, ternyata secara masif identitas lelaki yang bernama Muhammad SAW itu disebut sebagai "Nabi bani Kedar."

Sementara itu, dalam dokumen kuno berbahasa Latin yang berjudul "Theophanis Chronographia", beliau menjelaskan secara detail terkait nasab Sang Nabi SAW. Theophanes faktanya mengakui nasab Sang Nabi SAW sebagai keturunan Ismail melalui Quraisy. Bapa gereja kuno yang bernama Theophanes ini berkata:

"At vero decepti Hebraei in principio adventus eius aestimaverunt esse illum qui ab eis expectatur Christus ita, ut quidam eorum, qui intendebant ei, accederent ad ipsum et eius religionem susciperent, Mosis inspectoris dei dimissa ... Necessarium autem reor enarrandum de generatione huius ita. Ex una generalissima tribu oriundus erat, Hismahelis vodelicet, filii Abrahae. Nizarus enim, Hismahelis pronepos, pater eorum omnium ducitur. Hic gignit filios duos, Mudarum scilicet et Rhabian. Mudarus gignit Curasum et Kaison et Theominen et Asadum et alios ignotos. Hi omnes habitabant Madianiten heremum et in ea nutriebant pecora in tabernaculis conversantes. Sunt autem et his interiores, qui non sunt de tribu ipsorum, sed ex Iectan: videlicet hi qui vocinantur Ammanitae, id est Homiritae. Quidam sane ipsorum negotiabantur in camelis suis."

Bapa gereja Byzantium yang bernama Theophanes tersebut mencatat adanya 2 pesan utama dalam karyanya. Pertama, beliau melaporkan bahwa ada orang-orang Yahudi yang mengakui Sang Nabi SAW sebagai "Christus" (Messiah) yang mereka nantikan kemunculannya. Laporan ini membuktikan bahwa dalam rentang waktu 184 tahun sejak wafatnya Sang Rasul SAW hingga wafatnya Theophanes, ternyata terdapat sejumlah orang-orang Yahudi yang mengikuti agama Islam. Kedua, Theophanes mengakui Sang Nabi SAW sebagai keturunan Ishmail melalui Quraysh. Dan ini merupakan catatan kuno terkait historisitas nasab sebagai sebuah fakta yang terdokumentasi dalam literatur gerejawi yang disebut "Chronographia" (Chronicle) karya Theophanes. 

Bapa gereja purba yang bernama Theophanes (ca. 759/60 - 818 M.) adalah seorang Bapa gereja dari kalangan Ortodoks Byzantium. Awalnya karyanya ditulis dalam bahasa Yunani, dan karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-9 M. Laporan Theophanes ini ada kemiripan dengan laporan Flavius Josephus terkait klaim ketokohan Messiah. Theophanes (ca. 759/60 - 818 M.), seorang sejarawan Kristen Ortodoks melaporkan adanya orang-orang Yahudi yang terpengaruh dengan klaim pengutusan Sang Nabi SAW sebagai "Christus", sebagaimana laporan yang termaktub dalam "Theophanis Chronographia." Laporan Ini ditulis dalam rentang waktu 184 tahun, sejak masa akhir misi Sang Nabi SAW hingga wafatnya Theophanes (w. 818 M). Flavius Josephus (ca. 37 - 100 M.), seorang sejarawan Yahudi juga melaporkan adanya orang-orang Yahudi yang terpengaruh dengan klaim kenabian Yesus sebagai "Christus", sebagaimana laporan yang termaktub dalam "Testimonium Flavianum." Laporan ini ditulis dalam rentang waktu 67 tahun, sejak masa akhir misi Yesus hingga wafatnya Flavius Josephus.(w. 100 M).

Bila merujuk pada metodologi pembuktian fakta historis terkait nasab Sang Nabi SAW tersebut, maka perlu adanya kriteria kesahihan yang digagas oleh Theodore Noldeke, seorang orientalis asal Jerman. Menurutnya, fakta-fakta dapat diterima secara sahih bila diteguhkan oleh sumber-sumber dari kalangan Romawi atau pun Yunani. Hal ini penting karena karya "Chronographia" (Cronicle) tersebut merupakan data yang asalnya ditulis oleh Bapa gereja purba dalam bahasa Yunani, dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin (Romawi) pada masa awal sejarah Islam.

Laporan yang ditulis dalam "Chronographia" karya Theophanes (ca. 759/60 - 818 M.) ini sepadan dengan laporan Theodoret dari Cyrus, seorang Bapa gereja dalam "Riwayat Simon Priscus" yang ditulisnya pada abad ke-5 M., juga memberikan kesaksian yang sama mengenai kaitan hubungan nasab antara orang-orang Arab dengan Ismail. Theodoret, seorang Bapa gereja awal yang ahli teologi dan sekaligus ahli sejarah gereja, dalam rangka kegiatan misi penginjilan di tanah Arab, ia banyak bergaul dengan orang-orang Arab badui di padang gurun Syria. Sebagai hasil dari pergaulannya itu, Theodoret melaporkan bahwa orang-orang Arab di padang gurun 

Laporan dari Theodoret ini ternyata juga sejajar dengan laporan Imam at-Thabari (w. 310 H). Imam at-Thabari dalam kitabnya "Tarikh al-Mulk wa al-Rusul" melaporkan suatu berita yang terambil dari suatu kepercayaan kuno orang-orang Arab tentang Qushai bin Kilab, nenek moyang Nabi bani Kedar, generasi ke-6 dari Quraysh. Menurut laporan Imam at-Thabari, dalam syair-syair yang dilantunkan oleh Qushai bin Kilab pada masa lalu, ia selalu menyusuri leluhurnya dan menisbatkan nasabnya sampai kepada Kedar bin Ismail. Dalam hal ini, laporan Imam at-Thabari dari dokumen Islam generasi awal, ternyata sepadan dengan laporan Theodoret dari Cyrus, Bapa gereja awal dari kalangan Kristen Ortodoks Byzantium. 

Kedua laporan tersebut itu dapat diakui kebenarannya karena 2 hal. Pertama, Theodoret menulis laporannya tersebut bukan berniat untuk mendukung eksistensi agama Islam, sebab Theodoret sendiri menulis laporan tersebut pada tahun 450 M., atau 121 tahun sebelum kemunculan Islam, atau sebelum Nabi bani Kedar dilahirkan pada tahun 571 M. Dengan kata lain, laporan Theodoret itu dianggap sahih sebab beliau menulis laporannya itu pada abad ke-5 M., sedangkan Islam baru muncul pada abad ke-6 M. Kedua, Theodoret dari Cyrus menulis laporan dari hasil wawancara dengan orang-orang Arab badui di Syria pada tahun 450 M., sedangkan Qushai bin Kilab hidup pada pertengahan abad ke-5 M. Jadi orang-orang Arab Syria dan Qushai bin Kilab dari kalangan suku Quraysh tersebut hidup pada era yang sezaman. Dengan demikian laporan Theodoret dan Imam at-Thabari tidak ada perbedaan berkaitan dengan "Ansab" dari kalangan bangsa Arab Musta'ribah, keturunan Ismail.

Bila Theodoret dari Cyrus, Bapa gereja dari kalangan Kristen Ortodoks Byzantium melaporkan pelacakan nasab bangsa Arab hingga kepada Ismail, maka Theophanes, Bapa gereja dari kalangan Kristen Ortodoks Byzantium justru melaporkan pelacakan nasab Nabi Islam dari Quraysh hingga kepada Ismail. Sementara itu, Imam at-Thabari dari kalangan sejarawan Muslim generasi awal melaporkan pelacakan nasab Qushai bin Kilab hingga kepada Kedar, maka RAMBAM dari kalangan Yahudi juga melaporkan pelacakan nasab Nabi Islam dari Kedar hingga Ismail. Dalam konteks ini, nasab Nabi Islam berdasar pada dokumen-dokumen kuno tersebut, ternyata terkait dengan ke-4 nama penting, yakni nama Qushai bin Kilab, nama Quraysh, nama Kedar, dan nama Ismail. Dengan demikian, dokumen-dokumen tersebut ternyata sangat valid dan saling mengukuhkan. Dokumen-dokumen itu ternyata juga melintas batas zaman, melintas batas bahasa, dan melintas batas agama.

Saya sangat bersyukur mendapatkan data baru terkait dokumen kuno berbahasa Yunani dan Latin tersebut, dan saya mendapatkannya tatkala saya berada di kota Tokyo, Jepang pada tahun 2019 yang lalu. Dokumen berbahasa Latin ini sangat penting sebagai bukti pendukung atas karya RAMBAM yang ditulis dalam bahasa Judeo-Arabic. Dengan demikian, pembuktian mengenai nasab Sang Nabi Islam tersebut dapat diakui validitasnya berdasar sumber-sumber eksternal, sebagaimana yang terdokumentasi dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Posting Komentar

0 Komentar